Selasa, 09 Juni 2009

Guru Mitra Anak Didik dalam Kebaikan

Di sekolah guru orang tua kedua bagi anak didik. Sebagai orang tua guru harus menganggapnya ”anak didik” bukan menganggapnya ”peserta didik” istilah peserta didik lebih pas kepada mereka yang mengikuti kegiatan-kegiatan, latihan dan pendidikan yang waktunya relatif singkat yakni sebulan atau tiga bulan bahkan seminggu. Misalanya seperti kursus-kursus.
Penyebutan istilah anak didik lebih pas digunakan sebagai mitara guru di sekolah. Guru adalah orang tua. Anak didik adalah anak. Orang tua dan anak adalah dua sosok insani yang yang diikat oleh tali jiwa. Belaian kasih dan sayang adalah naluri jiwa orang tua yang sangat diharapkan oleh anak, sama halnya sama halnya belaian kasih dan sayang seorang guru kepada anak didiknya.
Ketika guru hadir bersama-sama anak didik di sekolah dalam jiwanya harus sudah tertanam niat untuk mendidikanak didik agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan mempunyai sikap dan watak yang baik, yang cakap dan terampil berjiw besar dan memiliki akhlakyang mulia.
Kebaikan seorang guru tercermin dari kepribadiannya.dalam sikap dan berbuat, tidak saja ketika di sekolah tetapi juga di luar sekolah. Guru harus memang menyadari bahwa dirinya adalah figur yang diteladani semua pihak, terutama oleh anak didik di sekolah. Guru adalah bapak rohani bagi anak didiknyahal ini berarti, bahwa guru sebagai arsitek bagi rohani anak didik.kebaikan rohani anak didik tergantung dari pembinaan dan bimbingan guru. Di sini tugas dan tanggung jawab guru adalah mendidik tingkah laku dan perbuatan anak didik yang kurang baik, yang dibawanya dari lingkungan keluarga dan masyarakat.
Pendidikan rohani untuk membentuk kepribadiana anak didik lebih dipentingkan. Anak didik yang berilmu dan berketerampilanbelum tentu berakhlak mulia. Cukup banyak orang yang berilmu dan berketerampilan, tetapi karena tidak mempunyai akhlak yang mulia, mereka terkadang menggunakannya untuk hal-hal yang tepat. Namun demikian, bukan berarti orang yang berilmu dan berketerampilan tidak diharapkan, tetapi yang sangat diperlukan tentu saja adalah orang yang berilmu dan berketerampilan serta yang berakhlak mulia. Pembinaan anak didik mengacu kepada 3 aspek di atas yakni anak didik yang berakhlak mulia/bersusila, cakap dan terampil.
Kegiatan proses belajar mengajar tidak lain adalah mencanangkan sejumlah normake dalam jiwa anak didik. Itulah sebabnya kegiatan ini dalam pembahasan ini dipakai istilah proses interaktif edukatif . semua norma yang diyakini mengandung kebaikan perlu ditanamkan ke dalam jiwa anak didik melalui peranan guru dalam pengajaran. Guru dan anak didik beraada dalam suatu relasi kejiwaan. Ineraksi antara guru dengan anak didik terjadi karena saling membutuhkan anak didik ingin belajar dengan menimba ilmu dari guru dan guru ingin membina dan membimbing anak didik dengan memberikan sejumlah ilmu kepada anak didik yang membutuhkan. Keduanya mempunyai kesamaan langkah dan tujuan, yakni kebaikan. Maka tepatlah bila dikatakan bahwa ”guru mitra anak didik dalam kebaikan”

0 komentar: